Rabu, 17 April 2013

Jadikan "Dia" sebagai sahabat sejati kita

mmm . . . kali ini saya punya cerita lagi untuk kalian semua yang membaca blog ini. Cerita ini masih saya ambil dari sebuah buku yang pernah saya baca. Dan beginilah ceritanya yang sengaja saya bagi terkhusus untuk kalian semua . . .

DOA ANDRE
(Harton. Ketika Burung-burung Berhenti Berdoa. Jakarta: Fidei Press, hlm. 91-97)

Ada seorang bocah kelas IV SD bernama Andre. Dia tinggal di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina. Setiap hari Andre mengambil rute melintasi daerah tanah bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya itu, bocah ini mampir sebentar ke gereja hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamatii oleh seorang pastor yang merasa terharu melihat sikap bocah yang lugu dan beriman itu.

"Bagaimana kabarmu Andre? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Pastor," balas Andre dengan senyumannya yang menyentuh hati Pastor itu. Pator itu begitu memperhatikan keselamatan Andre sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah itu, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke gereja dan saya akan menemani kami ke seberang jalan. Dengan cara itu saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Pastor."
"Mengapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di gereja setelah pulang sekolah?" tanya Pastor Miguel.
"Ya Pastor," jawab Andre. " Aku hanya ingin menyapa Tuhan Sahabatku."
Pastor itu segera meninggalkan Andre yang melewatkan waktunya di depapn altar berbicara sendiri. Tetapi kemudian Pastor Miguel bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andre kepada Sahabatnya itu.

"...Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak menyontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu potong kue dan hanya minum air putih. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa aku makan hanyalah kue ini. Terima ksih atas kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kepadanya kueku yang terakhir... Anehnya, aku merasa tidak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir, aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu, sepatu ini akan rusak, tetapi tidak apa-apa paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang mengatakan kami akan mengalami gagal panen bulan in. Beberapa orang bahkan sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong ya... Tuhan?
Ya, Engkau tahu ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tetapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang ibu. Tuhan, Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini... di sini... aku rasa Engkau tahu yang ini 'kan? Tolong jangan marahi ibuku ya...? Dia hanya sedang lelah dan khawatir akan kebutuhan makanan danbiaya sekolahku. Itulah sebabnya dia memukul aku.
Ya Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku?
Bagaimanapun juga, paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapa pun hanya untuk menyenangkan-Mu. Engkau adalah Sahabatku. Hei, hari ini tanggal 23 Desember. Ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi. Apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untuk-Mu. Tetapi ini kejutan untuk-Mu. Aku harap Engkau akan menyukainya.
Ops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andre segera berdiri dan memanggil Pastor Miguel. "Pastor, aku sudah selesai bicara dengan Sahabatku. Sekarang, Pastor bisa menemani aku menyeberang jalan!"
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari. Andre tidak pernah absen.
Menjelang Natal, Pastor Miguel jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit sehingga dia tidak bisa memimpin aktivitas gereja. Tugas pengelolaan gereja diserahkan kepada empat suster tua yang tidak pernaj tersemyum dan selalu menyalahkan apa saja yang dilakukan orang lain. Mereka juga mengutuki orang yang mengganggu dan menyinggung mereka.
Mereka sedang berlutut sambil memegang rosario ketika Andre tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa, "Halo Tuhan...aku..."
"Kurang ajar kamu bocah! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa? Keluar!"

Andre begitu terkejut dan bertanya kepada para suster itu, "Di mana Pastor Miguel? Dia seharusnya membantu aku menyeberangi jalan raya... Dia selalu menyuruh aku mampir lewat pintu belakang gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus. Hari ini ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya."
Ketika Andre mau mengambil hadiah itu dari dalam bajunya, seorang dari keempat suster itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah engkau bocah...Engkau akan mendapatkannya!"
Andre tidak punya pilihan lain. Ia sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya di depan gereja itu. Ia mulai menyeberang...tiba-tiba sebuah busa datang melaju kencang. Di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andre melindungi hadiah untuk Sahabatnya itu di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat bus itu datang. Tidak ada waktu lagi untuk menghindar dan...Andre tertabrak dan tewas seketika itu juga. Orang-orang di sekitar berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malan itu, yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul dari mana, ada seorang pria berjubah putih dengan wajah halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang itu.
Dia menangis...
Orang-orang penasaran dan bertanya, "Maaf Tuan, apakah Tuan keluarga bocah malang ini? Apakah Tuan mengenalnya?"
Pria yang berduka itu segera berdiri danberkata, "Dia adalah sahabatku." Itu saja yang dikatakannya.
Pria itu lalu mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju Andre dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri, menggendong tubuh Andre dan keduanya menghilang. Kerumunan orang semakin penasaran...

Pada malam Natal, Pastor Miguel sanga terkejut menerima berita kematian Andre. Pastor Miguel berkunjung ke rumah Andre untuk memastikan pria misterius berjubah putih itu. Pastor Miguel bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orangtua Andre.
"Darimana Anda tahu kalau putra Anda meniggal?"
"Seorang pria berbaju putih yang membawanya kemari," ucap ibu Andre terisak.
"Apa yang dikatakannya?"
"Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun di akelihatan sangat sedih. Sepertinya, dia begitu mengenal Andre. Dan mengenai pria itu, kami merasakan ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan. Dia lalu menyerahkan anak kami sambil tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andre dari wajahnya dan memberikan kecupan, kemudian membeisikkan sesuatu..., "jelas ayah Andre.
"Apa yang dikatakannya?"
"Dia berkata kepada Andre, " ujar san ayah, "terimakasih atas kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu, engkau akan bersamaku." Sang ayah kembali melanjutkan ceritanya, "Pastor tahhu, semuanya terasa begitu indah... Aku menangis tetapi aku tidak tahu mengapa. Aku hanya tahu aku menangis karena bahagia... Aku tidak dapat menjelaskannya, tetapi yang pasti, ketika Dia meninggalkan kami, kedamaian memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku...
Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu putraku sudah berada di surga sekarang. Tetapi tolong katakan padakku, Pastor... siapakah pria yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di geraja?
Pastor seharusnya tahu karena Pastor selalu ada di sana setiap hari. kecuali pada waktu putraku meninggal."

Tiba-tiba Pastor Miguel merasa air matanya menetes di pipinya, kemudian dengan lutut gemetar ia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa kecuali dengan Tuhan." 
(Sebuah kisah dari Filipina).

Yap...begitulah ceritanya teman-teman....
semoga bermanfaat bagi semuanya...
"Menjadikan Tuhan sebagai sahabat kita adalah sesuatu yang menyenangkan dan sangat indah"
Mari kita belajar bersahabat lebih dekat lagi kepada Tuhan.
Berkah Dalem :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D