Minggu, 01 Februari 2015

Tak Perlu Hal-hal yang Besar untuk Membuat Sesuatu yang Besar

mmm... sebelum bulan Februari aku mau mengirimkan suatu tulisan yang pernah aku buat waktu masih kuliah. Tulisan ini pernah ku kirmkan ke majalah kampus tapi tidak pernah diterbitkan... dan majalah itu ternyata juga sudah tidak terbit lagi...hehe
menarik lho silahkan dibaca...
ups tapi tampaknya sudah bulan Februari ni..hehe sayang sekali di bulan Januari blog ini kosong...
dan sayang sekali diakhir bulan ini aku tidak jadi mengirimkan sebuah cerita pengalaman ke lomba nulis pengalaman guru....sayang sekali, tulisanku belum jadi... aku akhir-akhir ini malas untuk menulis... aku benar-benar menyesal gagal menyelesaikan tulisanku...sayang sekali aku tidak ikut lomba nulis lagi....hu...hu...
Okelah sekarang mending nostalgia dengan tulisan lamaku saja ya...hehe... silahkan dibaca dan dinikmati lika-liku jalan ceritanya...


TAK PERLU HAL-HAL YANG BESAR UNTUK
MEMBUAT SESUATU YANG BESAR
 

       Setelah semua mata kuliah rampung, sebelum aku pulang selalu ku sempatkan mampir dulu di perpustakaan kampus Sanata Dharma Yogyakarta. Sebenarnya hari itu aku kuliah sampai jam 3 sore tapi karena satu mata kuliah kosong jadi aku pulang lebih awal jam 11.00 WIB. Setelah masuk perpus aku langsung menuju ke tempat Workstations ( WS ), aku paling sering masuk ke WS karena disana aku dapat internetan gratis, he..he..mumpung gratis. Kebetulan waktu itu aku kerja tugas bareng temanku. Setelah rampung kerja tugas teman ku pamit mau pulang dulu, tak selang berapa lama aku pun menyusul pulang. Ku menuju parkir untuk mengambil motorku. Setelah aku dah siap di atas motor, langsung ku tancap gasku nuju rumah dengan semangat maklum sudah mau pulang senang banget rasanya he..he.. 

       Baru beberapa meter meninggalkan kampus tercintaku ada seorang anak laki-laki yang menyalib ku dengan tenang. Dia mengendarai PITOENG (motor tahun 70’an), ku terkejut kecil dan mataku mulai tertarik sama anak itu. Ku lihat sebentar, tadi dia juga keluar dari parkiran Sadhar, “berarti dia anak Sadhar juga," kataku dalam hati. "Wah hebat benar anak ini, dengan pedenya dia melaju mengendarai pitoeng ke kampus,” kata ku kecil dalam hati. Jarang ku temui anak jaman sekarang mau mengendari motor tua seperti itu, anak sekarang paling tua motornya tahun 90’an, tapi dia? Betul-betul luar biasa semangatnya, pikirku. Apalagi anak kuliahan sudah banyak yang pakai mobil. Aku betul-betul tertarik dengan semangatnya. Karna saking semangatnya kubuntuti dia sambil aku pulang. Aku pengen tahu dia tinggal dimana, dan aku juga pengen kenal dengan anak tadi. Ku kendarai motorku tepat dibelakangnya, ku mencoba untuk mengimbangi tarikan gasnya. Jika dia melaju cepat aku juga ikut cepat begitu juga sebaliknya jika dia melambat, aku pun ikut melambatkan motorku, agar aku tak kehilangan jejaknya. Oh..ya sebelum pulang tadi sebenarnya aku berencana mau mampir ke pom bengsin. Biasanya aku beli bengsin di pom bengsin jalan kaliurang, tepatnya perempatan jalan kaliurang ke selatan dikit. Aku biasa ke pom bengsin itu karena sejalur dengan rumahku. Rumahku cukup jauh lho di godean. Aku biasa lewat jalur cepat (ring road) supaya cepat.

       Kembali lagi ke anak pitoeng tadi, ku terus membuntutinya, setelah melewati perempatan UPN, masih saja dia terus melaju lurus. Setelah itu perempatan condong caturpun dilewatinya. Aku yang ada di belakang motornya mulai berpikir dimana ya sebenarnya rumahnya?, apa dia sejalur dengan rumahku?, pertanyaan itu mulai muncul di otakku. ”Tapi jangan buru-buru memutuskan”, kata ku dalam hati, ku mulai fokos membuntutinya lagi. Tak terasa aku sudah sampai di perempatan ring road sebelah selatan kronggahan dan anak pitoeng tadi masih saja lurus. ”Wah benar-benar mau nuju ke arah godean ni”, pikirku lagi. Ku mulai bersemangat memfokoskan pengejaranku lagi. Setelah 1km melewati perempatan tadi aku mulai berpikir, ”cepat juga anak pitoeng tadi mengendarai motor tuanya.” Dan pada saat itu ku lihat jarum spedo motorku, (berniat meningkatkan kecepatan motorku he..he..) karena dia makin jauh dariku. Sesaat juga ku tak sengaja lihat jarum penunjuk bengsinku. ”Eh...kok limit banget ya”,...ku berpikir sebentar. Oh iya, tadikan aku mau mampir di pom bengsin jalan kaliurang. Baru kusadari saat itu juga aku lupa....(memalukan). ”Semua gara-gara anak pitoeng tadi”, gerutuku. Setelah melewati selokan mataram ku mulai berpikir, ku buntuti terus ga’ y? Ku sudah lupa beli bengsin gara-gara anak pitoeng tadi. Maklum ku bingung setelah melewati selokan mataram karena biasanya, aku dari ring road terus memotong jalan kemudian lewat jalan kecil pinggir selokan mataram biar makin cepat sampai rumah he..he.. Setelah melewati sungai jaman Jepang itu aku memutuskan untuk mengakhiri membuntuti anak pitoeng tadi. Ini karna bengsinku makin limit. ”Sudah cukup sampai disini tunggu hari berikutnya”, kataku dalam hati. 

       Dari pengalaman itu yang paling ku soroti adalah ketertarikanku akan semangat anak pitoeng tadi. Di atas motor selama ku membuntutinya tadi, sebenarnya aku juga merenungkan sesuatu, ”Tidak harus hal-hal yang besar untuk membuat sesuatu yang besar. Tetapi lewat hal-hal kecil pun bisa membuat sesuatu yang besar”. Dan beruntungnya aku ini karena lebih beruntung dari anak pitoeng tadi. Anak pitoeng tadi mau memakai motor tua itu karna mungkin kekurangan, tetapi dalam kekurangannya dia tetap semangat untuk meneruskan kuliah demi mengejar cita-citanya. Tak perlu malu pakai motor pitoeng yang penting ada motor yang bisa mengantarkannya sampai ke kampus mungkin itulah yang ada di benak anak pitoeng tadi. Malu aku, iri aku dengan perilakunya, dengan semua semangatnya. Kadang hanya karena masalah sepatu ku sudah usang, aku malu memakainya. Ada lagi aku hanya punya celana 1 untuk kuliah, semua itu sempat menghapus semangatku. Tapi kini ada anak pitoeng yang berbeda jauh dariku begitu semangat mengayuh hidupnya meski dengan segala keterbatasannya, mungkin juga dengan sejuta rasa malu yang dipendamnya dalam hati. Tapi kenapa denganku?, ada apa denganku?, apa yang aku lakukan selama ini?. Lagi-lagi ku berkata, aku lebih beruntung dari anak pitoeng tadi, aku benar-benar lebih beruntung darinya. Dan aku juga lebih beruntung dari semua anak yang ga’ bisa kuliah karna keterbatasan dana. Selama ini aku selalu malas-malasan belajar. ”Harusnya aku sadar”,  kataku dalam hati. Terimakasih Tuhan lewat kejadian tadi aku dapat sedikit sadar tentang keberadaanku dan kekuranganku, beruntungnya aku ini yang bisa kuliah. Terimakasih Tuhan. Engkau benar-benar selalu ada di sampingku yang siap menegurku jika aku melenceng sedikit darimu. Terimakasih Kau selalu menyertaiku. Satu hal lagi, ”tidak harus memakai hal-hal yang besar untuk membuat sesuatu yang besar, tetapi hal-hal yang kecil itu pun bisa membuat sesuatu yang besar”. Tak perlu hal-hal yang besar untuk bisa kuliah tapi cukup semangat dan kerja keras yang tinggi. 
Tulisan ini kutulis waktu masih semester 2 kalau tidak salah...hehe... atau mungkin semeser 3 hehe pokoknya masih awal-awal kuliah... semoga tulisan ini dapat menjadi berkat hehe bagi semua...
Terimakasih. GBU.

                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D