Selasa, 05 Februari 2013

Pernahkah kamu merasakan hidupmu tidak berharga?


Pernah tidak kalian merasakan tidak berarti. Apa yang telah kamu lakukan dengan maksimal seperti tidak ada artinya. Atau mungkin kamu merasa tidak punya kelebihan apa pun dibandingkan temanmu, sehingga kamu tidak pernah dianggap dan kamu seolah - olah dianggap tidak ada. Aku pernah merasakannya hehe... 
Ya merasa sepertinya aku tidak punya kelebihan apa pun sehingga sepertinya aku dianggap tidak ada. Rasanya campur aduk; sakit, kecewa (termasuk kecewa pada Tuhan), sedih.
Saya pernah membaca sebuah buku yang berisi cerita-cerita pengalaman hidup. Ceritanya juga tentang kekecewaan dan perasaan menjadi yang no.2. Berikut ini ceritanya yang sengaja saya tulis sama persis untuk saya bagikan kepada kalian semua,

Guru Olahraga : Kursi Cadangan
(Mintara Sufiyanta, S.J. Guruku Malikat Jiwaku. Jakarta : Penerbit Obor, hlm.104. Berdasarkan cerita dari John Gowhere)

 Sebenarnya, ini adalah kelanjutan dari kisah guru yang pernah aku ceritakan sebelumnya: tentang guruku yang menyuruhku menjadi kolektan (pengumpul kolekte) tiap kali aku sudah siap untuk ikut melayani misa di panti koor. Ini juga masih tentang guruku di Sekolah Dasar. Bedanya, yang ini adalah guru olahraga.
Sepakbola adalah olahraga favorit dan cukup bergensi. Di sekolahku, ada tim sepakbola. Banyak murid tertarik untuk berjuang agar bisa menjadi anggota tim. Sebab, dengan menjadi anggota tim, kesempatan besar terbuka untuk ikut bertanding dan merasakan kebanggaan. Demikianpun aku. Beruntung, aku bisa masuk tim. Bersama-sama dengan teman-teman, aku rajin berlatih. Boleh dikatakan, aku tidak pernah absen. Aku merasa, aku sudah berlatih sedemikian serius dan disiplin. Harapanku, Pak Guru melihat kesungguhan hatiku.
Suatu ketika Pak Guru mengumumkan bahwa bulan depan akan ada pertandingan melawan sekolah lain. Antusiasme segera merasuki dada setiap anggota tim. Termasuk aku, gairah dan semangatku untuk dapat memperkuat tim sekolahku begitu besar. Keinginanku untuk ikut bertanding begitu kuat. Maka aku berlatih dengan amat serius. Sekali lagi, aku berharap Pak Guru melihat usaha kerasku itu dan memasangku bermain pada waktu bertanding nanti.
Pada hari yang telah ditentukan, Pak Guru mengumumkan anggota tim yang akan diterjunkan main melawan sekolah lawan. Aku termasuk di dalam tim itu. Aku sudah senang, karena aku masuk tim yang akan bertanding. Ketika dipilih sebelas pemain, namaku tidak disebut. Aku dan empat teman lain diminta untuk bersiap-siap, dengan duduk di kursi cadangan. Sebenarnya aku merasa sedikit kecewa. Tetapi, aku masih berharap, aku sempat menggantikan temanku yang kecapaian atau perlu diganti. Memang ada satu-dua pemain yang terpaksa diganti oleh Pak Guru. Aku berharap, akulah yang akan ditunjuk. Namun, ternyata namaku tidak dipanggil. Sampai selesai pertandingan, aku harus puas diri duduk di kursi cadangan dan menyemangati teman-temanku bermain bola melawan sekolah lain.

Terus terang, hatiku sedih karena tidak bisa main. Tetapi mau bagaimana lagi, Pak Guru tidak memilihku untuk bermain. "Anak-anak, dua bulan lagi, ada sekolah lain yang mengajak sekolah kita untuk melakukan tandingan bola. Siapkan diri kalian baik-baik untuk menghadapi mereka." Kira-kira dua minggu setelahnya, Pak Guru mengatakan hal itu kepada kami satu tim sepakbola. Kami tertantang. Dada kami membara. Sekolah yang ini memang terkenal jago bermain sepakbola.

Maka, kami berusaha untuk berlatih lebih serius dan sungguh-sungguh agar tidak memalukan, bahkan kalau bisa kami dapat memetik kemenangan atasnya. Tanpa terlalu menghiraukan perasaan sedih karena tidak dimainkan pada pertandingan kira-kira dua minggu yang lalu, aku mengarahkan hati dan semangatku untuk latihan sebaik-baiknya, agar dapat ikut memperkuat tim dua bulan lagi.

Tidak pernah bolong aku datang latihan. Aku berusaha keras. Ya, lebih keras daripada biasanya. Sekali lagi, harapanku aku dapat bermain dalam pertandingan. Akan ku buktikan bahwa aku punya kemampuan dan dapat diandalkan. "Nugroho...," namaku disebut oleh Pak Guru sebagai anggota tim yang akan berangkat bertanding. Hatiku melonjak girang. Tetapi aku tetap agak was-was, mengingat pada laga yang lalu aku hanya ditempatkan olehnya di kursi cadangan.

Akhirnya, hari yang ditentukan tiba. Seragam aku pakai. Lengkap dengan sepatu. Aku merasa siap untuk memperkuat tim sekolahku. Namun lagi-lagi, namaku tidak dipanggil oleh Pak Guru ketika memilih sebelas pemain utama yang bermain. Aku duduk di kursi cadangan lagi. "Walaupun menjadi cadangan, kalian harus siap-siap. Sewaktu-waktu dibutuhkan, kalian harus siap." Kata-kata itu membuatku masih punya harapan. Di pinggir lapangan, aku bersorak-sorak menyemangati teman-teman yang sedang bertanding. Sambil sesekali aku meregangkan otot, agar jika dibutuhkan untuk menggantikan, aku siap.

Lagi-lagi, sampai akhir pertandingan, aku tidak dimainkan. Rasanya, tidak ada artinya aku berbulan-bulan latihan. Rasanya tak ada artinya aku meluangkan waktu, disiplin, dan berlatih serius selama ini. Kecewa rasanya. Sedih rasa hatiku. Entah apa lagi yang kurasakan. Ya itu tadi, rasa-rasanya tidak ada maknanya aku berlatih dan berjuang. Ujung-ujungnya, aku hanya selalu didudukkan di kursi cadangan.

Bertahun-tahun, ingatan selalu didudukkan di kursi cadangan itu membelenggu perasaanku. Tidak mudah menerimanya. Namun, ketika saat ini aku diserahi tugas untuk mendampingi murid-muridku, pengalaman yang boleh dibilang pahit dalam hidupku itu, ternyata memberiku pelajaran yang amat beharga. Aku tidak ingin murid-muridku mengalami perasaan seperti yang kualami itu. Aku ingin setiap muridku berperan dan merasa bangga atas peranannya itu. Sekecil apa pun, aku akan mencarikan cara agar masing-masing muridku dapat memainkan peranan seturut talenta dan bakatnya masing-masing.

Memang pahit yang kurasakan. Namun, sekarang aku baru dapat memetik pelajaran berharga dari sikap Pak Guruku yang selalu menempatkanku di kursi cadangan sepakbola. Barangkali inilah rencana yang disiapkan untukku, yaitu aku justru menyadari betapa berharganya setiap anak beserta talentanya berkat pengalaman "pahitku" di masa lalu. Baru sekarang ini aku bisa memahami arti menjadi cadangan. Baru sekarang ini aku bisa memahami dan mengambil nilai dari sikap Pak Guruku itu. Baru sekarang ini aku bisa berterima kasih padanya, karena justru dari situlah mataku terbuka terhadap apa yang semestinya dibuat seorang guru kepada muridnya.
Terima kasih Pak, atas pengalaman beharga menempatkanku di kursi cadangan itu.
~Selesai~

Bagaimana ceritanya? Menarik bukan. Apakah kalian pernah mengalami hal yang serupa dengan cerita di atas.
Menjadi pemain cadangan ataupun menjadi orang no.2 adalah hal yang sulit dan rasanya pasti kecewa dan sakit. Tetapi intinya berdasarkan pengalaman dari cerita di atas ataupun mungkin cerita-cerita yang pernah dialami orang menyimpulkan bahwa, "Ada suatu berkat atau maksud Tuhan terhadap kita dari suatu pengalaman pahit yang sedang kita alami."
Jadi, tetap semangat menjalani kepahitan hidup ini karena Tuhan punya rencana yang indah bagi hidup kita.
 GBU :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D