Selasa, 19 Maret 2013

Percaya tidak masing-masing dari kita diciptakan indah oleh Tuhan?

Terkadang kita pernah merasa tidak berarti, hidup kita tidak ada artinya. Dan sepertinya dunia ini tidak bersahabat dengan kita atau kita merasa dan bertanya-tanya untuk apakah aku ini diciptakan?
Atau lain lagi kita merasa iri kepada seseorang yang jauh lebih diperhatikan dan jauh lebih pitar atau jauh lebih baiklah dari kita (menurut kita). Kemudian kita merasa kenapa ya aku tidak seperti dia? kenapa aku diciptakan seperti ini? dan pertanyaan-pertanyaan lain pun mucul satu per satu dalam kepala kita. Akhirnya kita akan merasa tidak berarti dan kecewa dengan diri kita, kecewa dengan Tuhan karena telah menciptakan "aku" seperti ini. Mungkin kalian pernah merasa seperti itu?, Aku pernah merasakannya, bahkan kadang-kadang perasaan itu muncul dalam diriku. Nah berikut ini akan saya bagikan lagi kepada kalian semua  suatu cerita - bahwa hidup kita sudah diatur olehNya, bahwa kita ini diciptakan oleh Tuhan dengan suatu rencana yang indah dan tidak asal-asalan diciptakan. Itulah yang kemudian aku percaya setelah membaca cerita itu, semoga nanti juga dapat membuat kalian percaya setelah membaca ceritanya. Begini ceritanya . . .




TEMPAYAN YANG RETAK
(Teha Sugiyo. Pelangi Kehidupan 1 Antara Cinta dan Kegilaan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius, hlm.81-83)


Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapt membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja, si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun, si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan itu berkata pada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa, karena ada retakan pada salah satu sisi saya. Itu telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Tukang air itu merasa kasihan pada tempayan retak, dan dalam belas kasihannya ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun, pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena air yang dibawanya telah bocor. Kembali tempayan retak itu meminta maaf pada tukang air atas kegagalannya. Tukang air berkata pada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?
Itu karena aku menyadari cacatmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu, sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D