Jumat, 05 April 2013

Hidup kita bukanlah suatu kumpulan dari pengalaman acak! Percayalah:D

Saya punya kesan terhadap satu cerita/ kisah yang saya baca dari sebuah buku dan seperti tulisan-tulisan sebelumnya saya mau membagikan kisah yang saya baca dari sebuah buku itu kepada kalian semua yang membaca blog ini. Bocoran pertama untuk kalian, kisah itu berisi tentang "keajaiban dari sebuah kalimat positif dari seorang penulis." Begini kisah/ cerita dari buku itu saya ketik persis dari buku itu . . .

KEAJAIBAN DARI SEBUAH KALIMAT POSITIF
(Anang, Y. B. Sandal Jepit Gereja. Jakarta: Penerbit Obor, hlm.171-178)

  Jangan sia-siakan setiap kesempatan untuk mengucapkan kalimat-kalimat doa! Bahkan, biarpun bukan diminta memimpin doa, misalnya sekedar memberi ucapan selamat, lakukanlah itu dengan sepenuh hati, setulus hati, dan seindah yang bisa Anda rangkai. Yakinlah, di dalam hati Anda tersimpan perbendaharaan kata-kata, pujian, yang bisa kapan saja Anda rangkai untuk memberi semangat baru bagi setiap orang yang Anda temui, termasuk tentu saja keluarga Anda.
Apakah Anda masih saling senggol saat diminta memimpin doa pambukaan? Ataukah Anda lebih sering berkeringat dingin saat diminta mendoakan sahabat yang sedang Anda jenguk di rumah sakit? Bila ya, dengarkan satu nasihat sederhana ini:

   Saya memiliki satu pengalaman yang mengejutkan dan sungguh-sungguh saya rasakan sebagai subuah keajaiban. Bagaimana mungkin sebuah harapan yang saya tulis sepuluh tahun lalu dan sekian lama saya lupakan, akhirnya bisa menjadi kenyataan yang indah. Ini dia kisahnya. Saya tuturkan khusus bagi Anda, sahabat-sahabat saya!
***

   Kebiasaan pamer foto lewat internet tanpa saya sadari merembet juga ke kehidupan nyata. Minggu lalu dengan diiringi gerimis kecil, saya ambil dua foto buah hati saya dari studio foto. Kedua foto itu memuat dua peristiwa penting bagi keluarga kami. Bingkai foto pertama memuat senyum lebar Justin-anak saya yang kedua-sedang mendekap piala pertamanya. Biarpun seorang cowok, tapi nyatanya dia bisa memenangi lomba peragaan busana daerah di sekolahnya yang diadakan hari Sabtu, sehari sebelumnya. Asal tahu saja, piala itu adalah piala pertama yang kami miliki. Bahkan, saya dan istri saya pun seumur-umur belum pernah memperoleh penghargaan dalam wujud piala.

   Foto kedua yang saya bingkai dalam ukuran 10R adalah foto sang kakak. Usianya baru beranjak 10 tahun saat ini. Jauh lebih kalem dari adiknya, sang kakak belakangan lebih suka bermain internet dan memainkan alat musik. Kami pun sebagai orang tua semampunya menyediakan apa yang dibutuhkan anak kami ini. Satu buah keyboard Yamaha PSR-S700-biarpun bukan tipe keyboard terbaik-nyatanya cukup membuat anak pertama kami ini bersemangat menarikan jarinya di atas tuts setiap sore. Keyboard yang sekarang adalah pengganti keyboard lama yang memang sudah ketinggalan zaman sejak kami beli. Ya, biarpun tiga tahun lalu kantong kami begitu cekak, namun tak memadamkan niat kami untuk membelikan alat musik untuk anak pertama kami. Alhasil, kami pun menyusuri sepanjang pertokoan Mangga Dua mencari keyboard yang layak namun sesuai dengan isi dompet kami.

   Foto yang hendak saya pasang adalah foto saat si Kakak pentas di salah satu mal. Saya sendiri yang memotretnya. Sengaja saya pilih foto dalalm pose setengah badan agar wajah si Kakak lebih terlihat. Dengan mengenakan gaun tanpa lengan warna putih, si kakak terlihat mantap memainkan nada-nada dari lagu "Love Story" dan "Love Theme" bersahutan dengan gesekan biola dari tiga rekan di sampingnya. Si Kakak memang belum menjadi pemain musik tenar. Dia masih pentas di mal, belum di hall. Sesekali tampil di radio dan belum di televisi. Tapi, pencapaian ini sungguh membuat kami terus bersyukur.

   Di dinding ruang tamu, tersisa sedikit ruang untuk memasang foto si Kakak. Setelah mencoba beberapa posisi, akhirnya saya putuskan memasang bingkai foto itu sedikit di atas bingkai foto lama yang sudah terpasang entah sedari kapan.

   Saya baru mengetukkan palu dua kali dan paku belum menancap sempurna di dinding saat mata saya tergoda untuk melirik bingkai foto lama di bawahnya.

   Deg!!
Bingkai yang sedikit berdebu itu tidak berisi foto, tapi sebuah tulisan yang saya buat bulan Oktober 1999! Sepuluh tahun silam? Ya, benar! Tulisan terbingkai itu sengaja saya potong secara rapi dari tabloid Nakita. Kertasnya mulai menguning, namun dua kolom tulisan yang mengapit foto kami (saat itu tentu saja anak kami baru satu) masih jelas terbaca. Si Kakak yang sehari-hari kami panggil dengan sapaan "Fanny" masih terlihat polos di foto sepuluh tahun silam itu. Rambut nyaris tak terlihat di kepala bulatnya.

   Dan ..., judul tulisan pendek itulah yang membuah saya tercenung hingga sesaat menghentikan ayunan palu. Saya baca lirih, "MUSIK-SAHABAT SETIA FANNY"! Astaga...!

   Jadi, sepuluh tahun silam-tanpa saya sadari-jemari saya telah menorehkan satu harapan, satu doa, satu impian lewat sebuah tulisan positif tentang anak kami ini! Sungguh saya sudah sekian lama tak hiraukan tulisan pendek itu. Namun ajaib! Kini impian sepuluh tahun silam, dan kepiawaian si Kakak memainkan nada musik yang awalnya saya pandang sekadar dua bingkai kejadian yang tak berhubungan, nyatanya telah terangkai dalam satu dinding yang sama! Satu dinding kokoh kehidupan yang dibangun-Nya untuk kami!

   Tak sabar saya meniti kalimat-kalimat yang serasa baru saya tulis sedetik lalu.

Fanny sekarang punya sahabat-sahabat setia. Mereka adalah Mozart, Bach, Bethoven, Franz Schubert, dan Charlotte Church. Setiap pagi, Fanny selalu berdendang dengan iringan orkestra klasik maupun musik gospel. Ketika musik menghentak dengan irama cepat, maka Fanny akan berbinar, tangan terayun cepat, dan celoteh akan keluar dari mulut mungilnya.

   Slah satu tempat yang paling dia sukai adalah gereja. Setiap kali umat bernyanyi dia pun akan menggerakkan tangan, bahkan kaki sambil berceloteh keras. Terima kasih Bethoven dan kawan-kawan, berkat kalian Fanny tumbuh menjadi anak yang periang dan cerdas.

   Sebuah kebetulankah? Bagi saya bukan. Sebab, saya mempercayai satu hal, bahwa hidup kita bukanlah suatu kumpulan dari pengalaman acak yang membawa kita bagaikan setangkai ranting yang hanyut di aliran sungai ke tujuan yang tidak diketahui. Kita adalah bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih besar. Sebuah peristiwa-peristiwa kecil dan terlihat sepele, bisa jadi adalah sebuah kedipan dari Sang Pencipta sebagai pengingat atas sesuatu yang bakal terjadi di kehidupan nanti.

   Dan, bila ke dalam hidup Anda, telaj disematkan-Nya sebuah talenta berupa kepiawaian membuat tulisan, mengapa Anda masih menunda-nunda untuk merangkai kata? Susunlah tulisan-tulisan yang mengalir deras dari hati bersih Anda. Memang, membuat tulisan dengan aroma positif sering kali lebih tersendat daripada menumpahkan rangkaian kata berupa kritik, hujatan, maupun keluh kesah.

   Namun kini ingatlah, sebuah kalimat positif -entah kapan- akan tiba saatnya mengalirkan keajaiban-keajaiban yang bahkan Anda pun mungkin tak berani memimpikannya! Tulisan positif Anda apa pun ujudnya, tak peduli andai itu hanya empat baris pantun dalam blog pribadi Anda, atau dua kalimat doa umat penyela rangkaian doa Rosario, bisa jadi adalah satu ranting kecil yang tersambung dalam satu pokok kehidupan yang mengantar Anda atau orang lain ke kehidupan yang lebih baik.

   Jadi, teruslah berbagi kalimat-kalimat positif. Lewat doa atau pun sapaan. Lewat puisi atau pun narasi. Biarkan jemari dan bibir Anda menjadi kepanjangan-Nya dalam menyempurnakan alam semesta!

***

mmm . . . bagaimana ceritany? menarik bukan?... percaya pada kalimat-kalimat positif yang akan mengarahkan kita pada sesuatu yang nyata dan lebih baik, mungkin itu satu hal singkat yang saya ambil dari cerita di atas. Semoga tulisan kali ini semakin berguna bagi siapa pun yang sedang membaca blog ini.
GBU ALL... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D