Jumat, 12 Juni 2015

Sekedar Berbagi Tulisan

Selamat menikmati bulan Juni 2015...
Kali ini saya ingin membagikan sebuah tulisan yang menarik. Sebuah tulisan dari seorang Guru yang pernah dimuat di sebuah buku "Kapur & Papan 3 - Kisah Guru-guru Pembelajar." Bagi yang tertarik mau memiliki buku tersebut silahkan cek di toko-toko buku terdekat atau juga bisa membeli lewat online, silahkan hubungi dan inbox lewat FB: Lomba Nulis atau email: linkprint11@gmail.com.

Entah kenapa setiap kali selesai membaca sebuah buku yang menginspirasi dan menguatkan selalu saja hati ini ingin membagikan kepada orang lain.

Tulisan ini sengaja saya tulis ulang sesuai aslinya, selamat membaca & menikmati...


PETARUNG YANG TANGGUH
(Yulfitri Retno Ambarsari. Kapur & Papan 3. Yogyakarta: Penerbit Lingkarantarnusa, hlm. 43-46)

"Terkadang ada orang yang bertanya pada saya, untuk apa sekolah sampai S3, sedangkan anak-anak saya juga sedang banyak membutuhkan biaya?" ujar Ibu Sri mengawali kisahnya. "Kalau dipikir-pikir, biaya yang harus dikeluarkan setiap semesternya banyak sekali. Tapi saya terlanjur kena sindrom yang ditularkan dari murid saya, sindrom berupa perasaan yang tidak pernah takut kekkurangan karena pasti akan selalu ada jalan," jelasnya lagi. Pelajaran luar biasa yang beliau ambil dari salah satu siswanya. Dan dari sinilah kisah itu bermula.

      Seorang Ibu dengan empat orang anak, kedua anaknya duduk di bangku perguruan tinggi, sedangkan satu anaknya duduk di bangku sekolah menengah, dan yang paling bungsu masih Sekolah Dasar, sudah pasti membutuhkan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Apalagi beliau, saat ini juga tengah melanjutkan studi jenjang pendidikan S3, program doctoral di Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau adalah seorang guru yang cerdas, hal itu dibuktikan dengan keberhasilan beliau menjuarai beberapa kompetisi, entah atas nama pribadi maupun institusi karena menemani dan mendampingi siswa. Kecintaannya pada ilmu membuat beliau menjelma dari guru biasa menjadi guru luar biasa. Mungkin bagi sebagian guru, kuliah jenjang S2 saja sudah cukup tapi beliau masih semangat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu S3.

      "Aku tidak ambisi jadi apa-apa, kok. Aku hanya ingin menambah ilmu untuk murid-muridku," ucap beliau sambil tertawa riang. Dalam arti, beliau tidak mengincar jabatan gelar doktor yang kelak akan disandangnya setelah lulus nanti. Semua itu tentu tidak terjadi begitu saja, perkenalannya dengan seorang murid yang luar biasa, mampu menginspirasi dan menyentuh hati beliau sampai saat ini.

      Adalah seorang siswa di sekolah kami yang berhasil mencuri perhatian teman guru kami tersebut. Hasta namanya. Kesehariannya sangat sederhana. Ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Rumahnya di Imogiri yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari sekolah. Jarak sepanjang itu ditaklukkannya dengan bersepeda. Setiap hari datang ke sekolah selalu tepat waktu. Jika didramatisir, peluh yang membasahi wajahnya sulit dibedakan dengan air yang dipakai untuk membasuh muka. Orang yang tidak tahu tentangnya pasti mengira Hasta habis cuci muka. Padahal wajahnya kuyup oleh keringat, mungkin beda di aromannya saja... hehe...

      Kesulitan ekonomi tak pernah membuat Hasta menjadi pribadi yang rendah hati. Hasta tetap supel dan ceria seperti remaja pada umumnya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah sekalipun ia mengeluh. Semua kepahitan dijalani dengan santai seolah tanpa beban. Ayahnya seorang penarik becak sedangkan ibunya bekerja sebagai buruh bangunan. Adiknya dua orang dan semuanya bersekolalh juga. Tidak membawa uang saku, itu adalah hal yang biasa. Terlambat membayar biaya sekolah, bukanlah hal yang aneh juga. Hidupnya serba kekurangan materi. Beruntunglah dia mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, sehingga Hasta sering mendapat beasiswa untuk meringankan beban orang tuanya.

      Pekerjaan orang tuannya tidak pernah membuatnya malu, bahkan Hasta tidak segan memperkenalkan orang tuannya pada guru-guru di sekolah. Seperti ketika dia menjabat sebagai ketua kegiatan keagamaan di sekolah, dia mengajak ayahnya ke sekolah untuk membantu mengangkut tikar-tikar yang ada di musala sekolah untuk dicuci. Tikar-tikar tersebut diangkut menggunakan becak ayahnya, sementara Hasta mengiringi di belakang dengan sepedanya. Tak ada yang menyuruh, semua inisiatif dari Hasta sendiri.

      Jika dipikir-pikir, kadang tak habis dimengerti, jarak rumah sangat jauh, datang ke sekolah tidak pernah terlambat, padahal hanya menggunakan sepeda. Di sekolah pun masih mau terlibat dengan kegiatan yang luar biasa. Ada lagi kebiasaannya yang sungguh membuat aku tercengang yaitu ketika mendengar cerita ini. Hasta terbiasa puasa nabi Daud, sehari berpuasa, sehari berbuka. Sungguh suatu hal yang tak mudah dilakukan bagi anak seusianya. Namun, semuanya itu dijalani dengan tenang tanpa keluhan. Di sekolah, ia masih bisa tertawa tanpa beban sedikit pun. Kehidupan yang keras telah menempannya dengan baik, memberikan pelajaran yang tak ia dapatkan dari bangku sssekolah manapun. Benar-benar anak yang teruji, serta mampu memberi pengaruh positif bagi teman-teman dan lingkungan di sekitarnya. Sesuatu yang ia tampilkan itulah yang mampu menjadi teladan istimewa.

      Ketika Hasta duduk di kelas akhir bangku SMA, itulah awal kedekatannya dengan wali kelas yang menceritakan semua kisah ini padaku. Lebih dari dua tahun, Hasta menjalani rutinitas yang sama. Tetap bersepeda 40 kilometer setiap hari. Tak dimungkiri, dia pasti merasa kelelahan tapi semangat yang luar biasa mampu menutupi semua itu. Istimewannya adalah prestasi belajarnya yang tidak menurun. Sebagai wali kelas yang sangat perhatian dan kagum terhadap muridnya. Bu Sri memberikan tawaran kepada Hasta untuk tinggal di rumahnya selama beberapa bulan sampai tiba waktu ujian akhir SMA. Dengan pertimbangan agar dapat lebih fokus belajar, tidak kelelahan, dan menjaga dari hal-hal yang tidak diingkan di perjalanan. Singkat kata, Hasta bersedia tinggal di rumah Bu Sri. Selama tinggal di sana, Hasta tidak berpangku tangan saja. Setiap hari, ia membersihkan musala yang jika malam dijadikannya sebagai tempat untuk melepas penat dan belajar. Kegiatan di rumah pun ia kerjakan tanpa mengenal lelah dan selalu gembira. Hasta memang sungguh anak yang luar biasa.

      Terusik oleh apa yang diperlihatkan Hasta sehari-hari itulah yang membuat Ibu Sri bertanya bagaimana sebenarnya dia menghadap dan menjalani hidup ini. Jawabannya sangat luar biasa.

      "Kalau dipikir-pikir, dari kecil saya sudah hidup kekurangan, buat hidup saja susah apalagi buat sekolah, tapi selalu ada jalan yang tak pernah saya duga. Nyatanya hingga saat ini saya masih tetap hidup dan tetap bisa sekolah. Jadi, buat apa saya takut menghadapi sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Saya selalu yakin dan percaya dengan pertolongan Tuhan," begitu penjelasan Hasta.

      Ketika jawaban itu menjadi bahan renungan Ibu Sri, beliau menemukan pemaknaan yang sangat dalam bahwa kita tidak pernah terlahir sia-sia. Untuk apa takut menghadapi sesuatu yang belum pasti. Jalani saja karena pertolongan Tuhan itu sesungguhnya sangat dekat."

Bagus bukan ceritannya... semoga tulisan ini menguatkan bagi semua pembaca. Mari lebih semangat menjalani hidup ini, apa pun mimpi kalian, kejarlah dengan sepenuh hati. 
GBU ... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ditunggu komentar-komentarmu :D