Rabu, 27 Maret 2013

Tuhan Punya Rencana yang Indah Pada Hidup Kita.


Pernah lihat video "Cross" di atas??....
Saya punya sedikit pengalaman yang mau saya bagi dan ceritakan kepada kalian semua.
Pernah pada suatu acara sekolah minggu "PIA" saya memutarkan video "Cross" itu kepada anak-anak PIA. Mereka senang sekali melihat video itu. Ada bagian yang lucu dan menarik dari video itu, sehingga anak-anak pada tertawa. Saya senang sekali melihat mereka senang, dulu memang saya pernah punya keinginan mau menunjukkan beberapa video-vodeo rohani kepada anak-anak PIA. Tetapi baru punya kesempatan beberapa minggu yang lalu saya berhasil menunjukkan video kepada anak-anak PIA di tempatku.
Saat saya melihat anak-anak pada senang dan tertawa melihat video itu, sempat terbersit di benakku, apakah mereka tahu pesan sebenarnya dari video itu ya? apakah mereka mengerti pesan itu? atau malah mereka sama sekali tidak mengerti dan belum mengerti pesan dari video itu? dan mereka hanya tertawa dan senang melihat video itu saja tanpa tahu pesan dari video itu.
Maksyd utama saya menunjukkan video itu kepada anak-anak supaya mereka mengerti dan tahu pesan dari video itu. Tapi memang di bagian akhir acara PIA itu saya tidak menjelaskan pesan yang sebenarnya dari video itu, karena keterbatasan waktu.Tetapi tidak apa-apalah, karena saya percaya mereka "anak-anak" itu pasti sudah merekam sedemikian rupa apa yang mereka lihat dan suatu saat mereka akan mengingatnya kembali dan akan menyusun dan mengartikan pesan apa yang sebenarnya dari video itu.

"Terkadang saat ada masalah atau saat ada badai melanda hidup kita. Kita sering mengeluh kepada Tuhan dan bahkan kadang kita minta kepada Tuhan untuk menyingkirkan masalah itu dari kita supaya kita bisa bebas hidup tanpa masalah dan bisa hidup dengan ringan. Tetapi ketahuilah dan percayalah bahwa setiap masalah itu adalah sebuah rencana yang indah dari Tuhan untuk hidup kita."

Akan ada pelangi sehabis hujan, akan ada kebahagiaan sehabis ada pencobaan- percayalah!
Mungkin saya terkesan menggurui ya... hehe,, tetapi percayalah bahwa saya juga baru belajar untuk mempercayai itu semua. Yap saya, juga pernah dan sering mengeluh pada Tuhan setiap ada masalah, tetapi saya juga mau percaya bahwa Tuhan punya rencana terhadap hidupku.

GBU ALL :D

Selasa, 19 Maret 2013

Percaya tidak masing-masing dari kita diciptakan indah oleh Tuhan?

Terkadang kita pernah merasa tidak berarti, hidup kita tidak ada artinya. Dan sepertinya dunia ini tidak bersahabat dengan kita atau kita merasa dan bertanya-tanya untuk apakah aku ini diciptakan?
Atau lain lagi kita merasa iri kepada seseorang yang jauh lebih diperhatikan dan jauh lebih pitar atau jauh lebih baiklah dari kita (menurut kita). Kemudian kita merasa kenapa ya aku tidak seperti dia? kenapa aku diciptakan seperti ini? dan pertanyaan-pertanyaan lain pun mucul satu per satu dalam kepala kita. Akhirnya kita akan merasa tidak berarti dan kecewa dengan diri kita, kecewa dengan Tuhan karena telah menciptakan "aku" seperti ini. Mungkin kalian pernah merasa seperti itu?, Aku pernah merasakannya, bahkan kadang-kadang perasaan itu muncul dalam diriku. Nah berikut ini akan saya bagikan lagi kepada kalian semua  suatu cerita - bahwa hidup kita sudah diatur olehNya, bahwa kita ini diciptakan oleh Tuhan dengan suatu rencana yang indah dan tidak asal-asalan diciptakan. Itulah yang kemudian aku percaya setelah membaca cerita itu, semoga nanti juga dapat membuat kalian percaya setelah membaca ceritanya. Begini ceritanya . . .




TEMPAYAN YANG RETAK
(Teha Sugiyo. Pelangi Kehidupan 1 Antara Cinta dan Kegilaan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius, hlm.81-83)


Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapt membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja, si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun, si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan itu berkata pada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa, karena ada retakan pada salah satu sisi saya. Itu telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.

Tukang air itu merasa kasihan pada tempayan retak, dan dalam belas kasihannya ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun, pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena air yang dibawanya telah bocor. Kembali tempayan retak itu meminta maaf pada tukang air atas kegagalannya. Tukang air berkata pada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?
Itu karena aku menyadari cacatmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu, sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.

Jumat, 22 Februari 2013

Aku mau percaya Dia akan mengangkatku lebih dari yang kukira?


Saat jiwaku terasa gelapnya
Saat badai melanda jiwaku tanpa henti
Saat salibku terasa semakin berat untuk ku pikul
Saat beban hidupku begitu banyak melanda
Aku hanya ingin terus berucap tanpa henti
Aku mau percaya pada cinta Tuhan padaku
Dia tak pernah berhenti mencintaiku
Saat semuanya terasa berat
Aku mau percaya Tuhan masih mengasihiku
Aku mau percaya Tuhan tidak meninggalkanku

Aku yakin Tuhan tak akan tinggal diam
Dia akan mengangkatku lebih dari yang ku kira
Dia akan mengangkatku pada waktu yang tak terduga
Dan semuanya pasti indah pada waktunya
Aku mau percaya itu....

GBU ALL :D

Selasa, 19 Februari 2013

Apa yg akan ku balas dengan kebaikanNya pdku?



Pernah tidak kamu, kalian membayangkan kita sangat dicintai Tuhan. Kita sangat diperhatikan Tuhan...
Masih belum percaya. Terus setiap hari kita telah diberikan oksigen yang sungguh sangat segar untuk kita hirup. Kita telah diberikan kehidupan sampai saat ini. Kita telah diberikan kesehatan. Kita bisa melihat indahnya dunia. Kita bisa mendengar merdu atau bisingnya dunia ini. Dan masih banyak lagi anugerah-anugerah yang sering kita abaikan, padahal itu adalah anugerah yang tulus dan luar biasa. Percraya gak kalau semua itu dariNya.
hehe....

Pernah tidak suatu kali berpikir. Jika Tuhan sudah sangat baik padaku. Dia sudah rela memberikan berbagai macam hal yang begitu luar biasa untuk kita, yang sering kali kita abaikan dan malah kita menuntut diberi lebih. "Terus kira-kira kita mau membalas apa pada Tuhan, sekarang?." Pertanyaan yang sering kali tidak pernah muncul di dalam hati ataupun di pikiran kita. Tuhan sudah begitu baik padaku sekarang kira-kira aku mau membalas apa ya pada Tuhan?

Dia sudah memberikan segalanya padaku. Mungkin memang aku tidak akan bisa membalas sebesar kebaikanNya, tetapi aku akan berusah membalas kebaikanNya dengan perbuatanku atau mungkin dengan cara tidak menjauh dariNya, supaya kebaikan yang diberikanNya padaku tidaklah sia-sia.
Atau mungkin kalian punya cara lain untuk membalas kebaikan Tuhan, silahkan lakukan.
Gbu All.:D

Selasa, 05 Februari 2013

Pernahkah kamu merasakan hidupmu tidak berharga?


Pernah tidak kalian merasakan tidak berarti. Apa yang telah kamu lakukan dengan maksimal seperti tidak ada artinya. Atau mungkin kamu merasa tidak punya kelebihan apa pun dibandingkan temanmu, sehingga kamu tidak pernah dianggap dan kamu seolah - olah dianggap tidak ada. Aku pernah merasakannya hehe... 
Ya merasa sepertinya aku tidak punya kelebihan apa pun sehingga sepertinya aku dianggap tidak ada. Rasanya campur aduk; sakit, kecewa (termasuk kecewa pada Tuhan), sedih.
Saya pernah membaca sebuah buku yang berisi cerita-cerita pengalaman hidup. Ceritanya juga tentang kekecewaan dan perasaan menjadi yang no.2. Berikut ini ceritanya yang sengaja saya tulis sama persis untuk saya bagikan kepada kalian semua,

Guru Olahraga : Kursi Cadangan
(Mintara Sufiyanta, S.J. Guruku Malikat Jiwaku. Jakarta : Penerbit Obor, hlm.104. Berdasarkan cerita dari John Gowhere)

 Sebenarnya, ini adalah kelanjutan dari kisah guru yang pernah aku ceritakan sebelumnya: tentang guruku yang menyuruhku menjadi kolektan (pengumpul kolekte) tiap kali aku sudah siap untuk ikut melayani misa di panti koor. Ini juga masih tentang guruku di Sekolah Dasar. Bedanya, yang ini adalah guru olahraga.
Sepakbola adalah olahraga favorit dan cukup bergensi. Di sekolahku, ada tim sepakbola. Banyak murid tertarik untuk berjuang agar bisa menjadi anggota tim. Sebab, dengan menjadi anggota tim, kesempatan besar terbuka untuk ikut bertanding dan merasakan kebanggaan. Demikianpun aku. Beruntung, aku bisa masuk tim. Bersama-sama dengan teman-teman, aku rajin berlatih. Boleh dikatakan, aku tidak pernah absen. Aku merasa, aku sudah berlatih sedemikian serius dan disiplin. Harapanku, Pak Guru melihat kesungguhan hatiku.
Suatu ketika Pak Guru mengumumkan bahwa bulan depan akan ada pertandingan melawan sekolah lain. Antusiasme segera merasuki dada setiap anggota tim. Termasuk aku, gairah dan semangatku untuk dapat memperkuat tim sekolahku begitu besar. Keinginanku untuk ikut bertanding begitu kuat. Maka aku berlatih dengan amat serius. Sekali lagi, aku berharap Pak Guru melihat usaha kerasku itu dan memasangku bermain pada waktu bertanding nanti.
Pada hari yang telah ditentukan, Pak Guru mengumumkan anggota tim yang akan diterjunkan main melawan sekolah lawan. Aku termasuk di dalam tim itu. Aku sudah senang, karena aku masuk tim yang akan bertanding. Ketika dipilih sebelas pemain, namaku tidak disebut. Aku dan empat teman lain diminta untuk bersiap-siap, dengan duduk di kursi cadangan. Sebenarnya aku merasa sedikit kecewa. Tetapi, aku masih berharap, aku sempat menggantikan temanku yang kecapaian atau perlu diganti. Memang ada satu-dua pemain yang terpaksa diganti oleh Pak Guru. Aku berharap, akulah yang akan ditunjuk. Namun, ternyata namaku tidak dipanggil. Sampai selesai pertandingan, aku harus puas diri duduk di kursi cadangan dan menyemangati teman-temanku bermain bola melawan sekolah lain.

Terus terang, hatiku sedih karena tidak bisa main. Tetapi mau bagaimana lagi, Pak Guru tidak memilihku untuk bermain. "Anak-anak, dua bulan lagi, ada sekolah lain yang mengajak sekolah kita untuk melakukan tandingan bola. Siapkan diri kalian baik-baik untuk menghadapi mereka." Kira-kira dua minggu setelahnya, Pak Guru mengatakan hal itu kepada kami satu tim sepakbola. Kami tertantang. Dada kami membara. Sekolah yang ini memang terkenal jago bermain sepakbola.

Maka, kami berusaha untuk berlatih lebih serius dan sungguh-sungguh agar tidak memalukan, bahkan kalau bisa kami dapat memetik kemenangan atasnya. Tanpa terlalu menghiraukan perasaan sedih karena tidak dimainkan pada pertandingan kira-kira dua minggu yang lalu, aku mengarahkan hati dan semangatku untuk latihan sebaik-baiknya, agar dapat ikut memperkuat tim dua bulan lagi.

Tidak pernah bolong aku datang latihan. Aku berusaha keras. Ya, lebih keras daripada biasanya. Sekali lagi, harapanku aku dapat bermain dalam pertandingan. Akan ku buktikan bahwa aku punya kemampuan dan dapat diandalkan. "Nugroho...," namaku disebut oleh Pak Guru sebagai anggota tim yang akan berangkat bertanding. Hatiku melonjak girang. Tetapi aku tetap agak was-was, mengingat pada laga yang lalu aku hanya ditempatkan olehnya di kursi cadangan.

Akhirnya, hari yang ditentukan tiba. Seragam aku pakai. Lengkap dengan sepatu. Aku merasa siap untuk memperkuat tim sekolahku. Namun lagi-lagi, namaku tidak dipanggil oleh Pak Guru ketika memilih sebelas pemain utama yang bermain. Aku duduk di kursi cadangan lagi. "Walaupun menjadi cadangan, kalian harus siap-siap. Sewaktu-waktu dibutuhkan, kalian harus siap." Kata-kata itu membuatku masih punya harapan. Di pinggir lapangan, aku bersorak-sorak menyemangati teman-teman yang sedang bertanding. Sambil sesekali aku meregangkan otot, agar jika dibutuhkan untuk menggantikan, aku siap.

Lagi-lagi, sampai akhir pertandingan, aku tidak dimainkan. Rasanya, tidak ada artinya aku berbulan-bulan latihan. Rasanya tak ada artinya aku meluangkan waktu, disiplin, dan berlatih serius selama ini. Kecewa rasanya. Sedih rasa hatiku. Entah apa lagi yang kurasakan. Ya itu tadi, rasa-rasanya tidak ada maknanya aku berlatih dan berjuang. Ujung-ujungnya, aku hanya selalu didudukkan di kursi cadangan.

Bertahun-tahun, ingatan selalu didudukkan di kursi cadangan itu membelenggu perasaanku. Tidak mudah menerimanya. Namun, ketika saat ini aku diserahi tugas untuk mendampingi murid-muridku, pengalaman yang boleh dibilang pahit dalam hidupku itu, ternyata memberiku pelajaran yang amat beharga. Aku tidak ingin murid-muridku mengalami perasaan seperti yang kualami itu. Aku ingin setiap muridku berperan dan merasa bangga atas peranannya itu. Sekecil apa pun, aku akan mencarikan cara agar masing-masing muridku dapat memainkan peranan seturut talenta dan bakatnya masing-masing.

Memang pahit yang kurasakan. Namun, sekarang aku baru dapat memetik pelajaran berharga dari sikap Pak Guruku yang selalu menempatkanku di kursi cadangan sepakbola. Barangkali inilah rencana yang disiapkan untukku, yaitu aku justru menyadari betapa berharganya setiap anak beserta talentanya berkat pengalaman "pahitku" di masa lalu. Baru sekarang ini aku bisa memahami arti menjadi cadangan. Baru sekarang ini aku bisa memahami dan mengambil nilai dari sikap Pak Guruku itu. Baru sekarang ini aku bisa berterima kasih padanya, karena justru dari situlah mataku terbuka terhadap apa yang semestinya dibuat seorang guru kepada muridnya.
Terima kasih Pak, atas pengalaman beharga menempatkanku di kursi cadangan itu.
~Selesai~

Bagaimana ceritanya? Menarik bukan. Apakah kalian pernah mengalami hal yang serupa dengan cerita di atas.
Menjadi pemain cadangan ataupun menjadi orang no.2 adalah hal yang sulit dan rasanya pasti kecewa dan sakit. Tetapi intinya berdasarkan pengalaman dari cerita di atas ataupun mungkin cerita-cerita yang pernah dialami orang menyimpulkan bahwa, "Ada suatu berkat atau maksud Tuhan terhadap kita dari suatu pengalaman pahit yang sedang kita alami."
Jadi, tetap semangat menjalani kepahitan hidup ini karena Tuhan punya rencana yang indah bagi hidup kita.
 GBU :D



Sabtu, 02 Februari 2013

Mencoba menyemangati diri sendiri


Kemana semangatku? kenapa dengan diriku? kenapa aku sekarang tambah males?.....
Itu mungkin pertanyaan-pertanyaan yang banyak muncul di kepalaku sekarang ini.
Skripsi belum beres. Tetapi kenapa aku malah tidur terus dan males. 
Ayo kembalilah semangat!!
Tuhan aku butuh tetesan semangat dariMu, karena sekarang ini aku merasa benar-benar haus semangat.
Haha....menyemangati orang lain mungkin adalah hal yang lebih mudah daripada menyemangati diri sendiri.

Tetap berjalan meski badai terus menerjang itulah yang harus kulakukan saat ini.
Tetap bejalan ke depan dan percaya bahwa aku tidak berjalan sendirian. Yap Tuhan masih setia berjalan bersamaku.
"Aku tidak akan lagi bertanya mengapa kekecewaan ini terjadi padaku, tetapi aku akan terus melangkah maju karena aku tahu bahwa kebaikan sedang aku tuju" (Felix Supranto. Luapan Cinta Tuhan. Jakarta : Penerbit Obor, hlm.103).
Di dalam badai ini justru kesetiaan kita pada Tuhan sedang diuji.
Jadi, mari terus semangat! :D
 


Kamis, 31 Januari 2013

Tentang Kesetiaan



Mau di awali dari mana ya kalau mau ngomongin tentang kesetiaan. Mmm... mungkin mulai dari hal-hal kecil dari kehidupan kita, pasti akan lebih mengena, iya g?
Terkadang kalau dengar tentang kesetiaan pasti yang paling terpikirkan oleh kita adalah soal hubungan. Yang paling kita pikirkan sudah pasti hubungan kita dengan pacar ataupun dengan suami/ istri. Tetapi hubungan itu bisa diperluas lagikan!, yaitu hubungan kita dengan teman, orang tua, atau mungkin dengan Tuhan sendiri. Hehe masalah hubungan dengan Tuhan, terlalu religius ya?. Tapi mau dikatakan religius ataupun tidak kita ini tetap harus behubungan dengan Tuhan, supaya kita tidak jauh dariNya. Soalnya kalau sudah jauh dari Tuhan bisa gawat hidup kita. Haha sok suci ya diriku. Padahal masih sering juga aku meninggalkanNya.
Hubungan berkaitan dengan kesetiaan. Jika mau berhubungan dengan baik ya harus menjaga kesetiaan dan komintmen. Jika kita mau berhubungan baik dengan Tuhan kita juga harus setia denganNya. 
Berkaitan dengan video di atas. Video itu adalah salah satu inspirasi kesetiaan seorang anak terhadap Tuhannya. Saat pertama kali melihat video itu, rasanya aku malu dan sedih dengan diriku. Karena masih seringnya aku tidak setia dan menjauh dariNya. Jika kita setia denganNya, hubungan kita dengan Tuhan pasti akan dekat dan kalau hubungan kita sudah dekat maka, saat mau minta bantuan padaNya pun jadi gampang, iya ga?
Kesetian juga tidak hanya pada Tuhan dan sesama saja tetapi kesetiaan pada pekerjaan juga bisa. Setia pada pekerjaan yang sudah kita pilih. Termasuk di dalamnya setia untuk menyelesaikan tugas-tugas sampai selesai. Karena, ada pepatah jika mau setia pada hal-hal besar kita harus memulainya pada hal-hal kecil dulu. Hehe... inilah pendapatku yang coba ku bagi. Sebenarnya aku juga masih belajar pada apa yang ku tulis di atas, karena selama ini aku pun masih sering tidak setia pada hal-hal kecil. Termasuk untuk setia pada Tuhan, aku juga masih sering jatuh dalam dosa. Mari kita belajar bersama!
Berkah Dalem. :D