Minggu, 07 Juli 2019

Mulai dari Awal

Heiii Juli 2019!! Aku sudah menyapamu hehehe... Juli tahun ini. Saat menulis tulisan ini aku berposisi di Ibu Kota tercinta. Sebuah kota yang tak pernah kubayangkan akan menarikku ke sini. Di tulisan sebelumnya pernah aku ceritakan mengapa aku akhirnya pindah kerja. Pindah kerja ternyata tidaklah semudah yang dipikirkan. Ada beberapa hal yang perlu ku pertimbangkan dan sangat berat untuk melepas tempat kerja lama maupun kotanya. Karena, sejak kecil aku sudah berada di kota tersebut. Jogja, kau tetap akan selalu istimewa. 

Kota baru ini sangatlah berbeda dengan kota kecilku. Suasanannya, orangnya, budayanya, udaranya (baca: polusinya), dan semuanya sungguh berbeda. Di awal ini aku pun masih takut dan ragu. Terkadang muncul pertanyaan dalam diri, "Apakah keputusanku ini tepat? atau Apakah keputusannku ini akan menyesatkanku?" Sungguh aku khawatir. Tetapi menurutku suatu keputusan itu tidak akan pernah ada yang tepat ataupun tidak. Semuanya tergantung diri kita sendiri yang bisa mengubahnya. Jika sudah memilih ok lakukan, urusan akhirnya nanti bagaimana serahkan pada Tuhan. Jadi, aku harus maju dan menyingkirkan keraguan dalam diri ini. Berkat doa-doa dan dukungan dari orang tua, teman-teman guru, saudara, sahabat, teman seperjuangan kuliahlah yang terus menyalakan api semangat dan memadamkan keraguan dalam diri ini. Terimakasih Tuhan, Engkau sudah mengirimkan malaikat-malaikat kecil yang mendampingiku.
(https://pendoasion.wordpress.com/2014/04/21/puisi-kasih-tuhan-3/)
Besok Senin, 8 Juli 2019. Aku resmi masuk pertama kali di tempat kerja baruku. Yak, aku akan mulai dari awal lagi hehehe... tetapi tidak masalah. Aku percaya semua ini bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa. Tunggu aku ya tempat kerja baruku. Aku besok akan datang hehehe. -Tidak sendiri- karena aku bersama Tuhan, Dia mendampingiku, Dia menyertaiku, Dia menuntunku, Dia berada di sisi menggenggam tanganku. Jadi, sambutlah aku ya hehehe. :D :D...
Hai pengalaman baru, aku datang!!! hehehe...
Oiya, sebelumnya di kelas aku memang tidak pernah pamit secara terbuka kepada murid-muridku. Tetapi yang jelas, aku pernah bilang kepada mereka, "Kalau aku masih punya cita-cita yang akan ku kejar. Aku yang sudah menjadi guru ini, sudah bekerja ini, dan sudah seusia ini saja masih punya cita-cita. Lalu, apa cita-cita kalian!, jangan sampai kalah denganku ya!, Ayo kejar cita-cita kalian nak!." Tuhan menyertai kalian semua nak!!!
Berkah Dalem
:D

Kamis, 23 Mei 2019

Mencoba Mengandalkan dan Berserah PadaNya


Mei 2019. Hei...
Bulan Mei bagi umat Katolik adalah bulan yang spesial, karena di bulan ini ada doa Rosario yang dilakukan satu bulan penuh. Tapi itu bagi umat yang rajin hehehe... bagi yang biasa saja mungkin ada yang tidak melakukan doa tersebut. Hal itu juga sempat terjadi pada diri ini hehehe... Tapi entah kenapa tahun ini saya ingin sekali ikut doa Rosario. Dan kebetulan, doa Rosario lingkungan dilakukan di rumah Bapak, alhasil saya pun ikut terus yessss.

Ok, kali ini saya ingin berbagi tentang video di atas. Pertama kali mendengar lagu itu saat di gereja, liriknya dalam dan menyentuh. Pernah juga ikut koor menyanyikan lagu itu di yayasan sekolah tempat kerja. Senang rasanya bisa menyanyikan lagu tersebut bersama teman-teman koor. 

Kemarin pagi, entah kenapa pengen banget cari lagu tersebut di youtube, kangen banget dan ketemu, terus pagi ini saat berjaga ujian kenaikan kelas langsung saya bagi di blog ini. Semoga pengunjung ketularan semangat, setelah mendengar lagu tersebut. Akhir-akhir ini sepertinya hati ini lagi gundah hahahaha.... Tapi saya ingin tetap tersenyum biar kegundahannya hilang. Kadang saat sedang galau berat seperti hari ini, hanya pengen mencari penyemangat diri, dan biasanya banyak mendengarkan lagu-lagu penyemangat.

Kegundahan dan kegalauan ini mengingatkanku bahwa diri ini lemah.
Kerapuhan ini mengingatkanku bahwa diri ini butuh penopangNya.
Iya diri ini rapuh
Tapi karena rapuh saya bisa ingat Tuhan
Karena rapuh, saya juga bisa mengandalkan dan berserah kepadaNya sebab tanpa bantuanNya diri ini tidak bisa apa-apa dan bukanlah apa-apa.
Saya tidak menyesal diciptakan seperti ini, terimakasih ya Tuhan untuk semuanya.
Jadi ingat kutipan ayat di kitab suci (2 Kor 12:9), "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebuah kutipan yang juga menjadi pedoman teman seperjuangan sewaktu kuliah dulu, beliau seorang Frater.

Sekian dan terimakasih.
Berkah Dalem.
:D

Selasa, 23 April 2019

Terimakash Tuhan (2)

(Gambar: http://u-channel.tv/berempati-terhadap-sesama/)

Sudah April, sudah Paskah dan sudah mau akhir bulan. Bulan ini akan segera berlalu dan Paskah 2019 juga sudah mau berlalu hehehe... kok kayak sedih banget ya aku ngomongnya... hehehe... Yap, sebenarnya memang lagi sedih sih, tapi sedih yang ini sensitif jadi tidak akan aku bagi di sini. Biarlah ku simpan sendiri. Aku ingin membagi yang bahagia dan positif saja, supaya blog ini tetap positif dan pembaca ketularan positif bukan negatif dari diri ini.

Tuhan terimakasih berkali-kali lagi karena Engkau sudah memberikan pengalaman yang berharga dalam hidupku selama kemarin-kemarin ini. Ada pengalaman yang membahagiakan dan yang paling membahagiakan sudah ku tulis di cerita sebelumnya di blog ini. Tetapi ada juga pengalaman yang membuatku sedih dan mungkin hampir terpuruk hahaha... semoga aku tidak lebai ya. Tapi aku sadar dan tahu diri bahwa semua pengalaman kemarin bukanlah pengalaman yang acak dan tak jelas. Kenapa?? Karena aku pecaya semuanya sudah Kamu rangkai dan sudah sesuai rencanaMu. Dan aku juga sadar...

Di saat diri ini terpuruk, Engkau akan menguatkannnya lagi. 
Di saat hatiku remuk berantakan, Engkau merangkainya lagi menjadi utuh. 
Di saat kaki ini lemah untuk berjalan, Engkau menuntunku hingga kaki-kakiku kuat untuk melangkah lagi. 
Di saat aku tak tahu kemana lagi akan melangkah, Engkau meraih tanganku dan menuntunku. 
Di saat aku menangis, Engkau menangis bersamaku kemudian menenangkanku. 
Di saat aku khawatir hidupku ke depan, Engkau menepuk pundakku dan berkata,"Hei... Aku di sini menemani langkahmu nak, jangan takut!". 

Jadi, aku merasa tak sendiri lagi. KarenaMu aku bisa bangkit lagi. Saat aku terpuruk, masih ada keluarga yang menopangku dan menenangkanku. Masih ada juga teman-teman dan sahabatku. Terimakasih untuk semua bantuannya Tuhan. 
Oya, mulai tahun ajaran baru nanti, aku akan memulai dari nol lagi karena, ku putuskan untuk pindah kerja. Aku pernah cerita kalau masih punya mimpi yang ingin aku raih. Jika ada tempat atau kesempatan kerja di tempat lain yang lebih baik, akan aku coba. Dan ternyata sudah ku coba dan berhasil, tinggal memantabkan hati lagi. Dan aku sudah mantab.

Meskipun nanti aku sendiri, tapi aku percaya semua ini bukanlah kebetulan. Ada teman yang akan menemaniku di tempat kerja baru nanti. Ada keluarga yang mendorong dan menyemangatiku. Dan pastinya ada Engkau Tuhan yang tak pernah meninggalkanku. Meskipun sebenarnya aku ingin ada seseorang spesial yang mau menemaniku hehehe... tapi, mungkin nanti akan ketemu kalau sudah tiba saatnya. hehehe....
Terimakasih, terimakasih, terimakasih Tuhan.
KarnaMu, aku kuat.
Sekian Berkah Dalem

Rabu, 06 Februari 2019

Terimakasih Tuhan

Sudah lama tidak ngepost lagi di sini. Sepertinya mulai banyak debu blog ini hehehe. Biar saya bersihkan sebentar lalu mulai ngepost lagi. Kali ini saya mau berbagi sesuatu ...

Yang paling membahagiakan di tahun ini adalah sekarang saya sudah tidak sendiri lagi hehehe.... Terimaksih Tuhan sudah menjawab doaku. Sebenarnya sudah sejak tahun kemarin sih, tepatnya mulai bulan September tahun kemarin, sudah itu saja, cukup ya hehehe. 

Mari serius, inilah yang sebenarnya ingin saya bagi, cerita yang di atas tidak akan saya bagi di sini hahaha...

Saya mulai lupa lagi, selalu seperti ini. Dulu di awal mulai kerja, saya begitu tertarik dengan gereja di depan sekolah (baca: tempat kerja). Sempat ingin masuk ke sana sendiri dan mulai diam bersujud atau duduk di salah satu bangku gereja itu. Atau ingin ikut misa harian di pagi hari, seperti saat masih jadi anak kampus dulu juga beberapa kali ikut misa harian. Aku merindukannya, sungguh. Tapi, karena misa itu dimulai sangat pagi dan jarak rumah sampai sekolah lumayan jauh, kandaslah keinginan itu hehehe. Keinginan duduk diam di sana pun kandas karena malas ataupun malu sama teman-teman. Dan kejadian seperti ini pun terus berulang sampai saya lupa keinginan awal dulu. Maaf Tuhan.

Sekarang saya ingat lagi keinginan tersebut. Kadang mulai berpikir kenapa tidak dicoba?, Saat beban hidup ini terasa berat kenapa saya malah mulai lari dari Tuhan, kenapa tidak masuk gereja yang ada di depanku? Masuk duduk dan diam. Kenapa tidak saya lakukan? Saat diri ini tidak tenang, apa yang saya lakukan?, Sekali lagi maaf Tuhan. Besok ingatkan diri ini supaya mendekat kearahMu bukannya malah menjauh. Besok panggilah namaku supaya bisa masuk ke gereja itu. Besok tariklah tanganku supaya bisa fokus mengikutiMu. Kalau masih tidak mendengar dan tidak mau tamparlah pipiku biar sadar dan mulai mengandalkanMu lagi. Ini adalah masalah klasik yang selalu menghambatku. Terimakasih Tuhan sudah memberikan anugerah yang begitu banyak kepadaku. Untuk semua doa-doa yang sudah terjawab ataupun doa-doa yang sengaja belum Kau jawab atau tidak terjawab karena Engkau punya rencana yang terbaik untukku. Ajari diri ini untuk sabar dan pasrah kepadaMu.Terimakasih Tuhan. Amin.

Sekian postingan dari saya. Semoga menjadi berkat.
BD.

Selasa, 10 Juli 2018

Tiga Tahun

(Gambar: http://lensa.fotokita.net/2013/04/kenali-burung-anda-tips-memotret-burung/)

Tiga tahun sudah saya bekerja di suatu sekolah SMP Yayasan Katolik di Yogyakarta. Apa yang sudah saya dapat? Apa yang telah saya lakukan? dan Apa yang sudah terjadi selama di sini?. Tiga pertanyaan awal yang mencoba saya telusuri dan kudu dijawab. Mengapa perlu dijawab?, karena, jika ingin maju terhadap sesuatu hal, kita harus berrefleksi tentang perjalanan yang sudah kita tempuh. Kemudian hasil refleksi tadi bisa kita gunakan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah kita buat.

Apa yang sudah saya dapat?
Tentunya banyak, baik itu pengalaman yang manis ataupun pahit. Dari pengalaman pertama menjadi wali kelas dadakkan karena menggantikan teman guru yang cuti melahirkan, menjadi pembina upacara bendera, menjadi wali kelas resmi, menjabat jadi petugas sarpras sekolah, dan masih banyak lagi. Tentunya setiap pengalaman atau peristiwa mempunyai kesan-kesannya sendiri.

Apa yang telah saya lakukan?
Mmm... kalau ditanya pertanyaan ini saya kebingungan mau jawab apa, hehe. Tapi yang jelas dari pengalaman-pengalaman yang diceritakan di atas, pasti saya juga sudah melakukan sesuatu, minimal sesuatu hal atau usaha supaya setiap perkerjaan yang sudah diamanatkan bisa dikerjakan dengan baik. Terkadang mungkin banyak yang belum sempurna tapi setidaknya tidak terlalu mengecewakan. Itu menurut kacamata saya…hehe. Seperti misalnya: membelikan komputer untuk laboratorium sekolah dengan harga murah tapi berkualitas. Hal ini saya lakukan supaya sekolah tidak mengeluarkan banyak uang, tetapi sudah mendapatkan barang yang kualitasnya bagus. Ataupun membeli barang-barang sarpras dengan uang pribadi tanpa meminta uang ganti. Tentunya ini barang-barang yang kecil (baca: tidak terlalu mahal) saja misalnya: paku, lampu, sekrup, atau yang lainnya. Tapi pernah juga saya beli barang yang lumayan mahal dan tidak pernah meminta uang ganti…hahaha… tidak usah diceritakan di sini biarlah itu saya simpan saja hehe. Yang jelas kadang memang saya tidak terlalu memikirkan tentang “rugi” jika tidak meminta uang ganti. Bagi saya yang penting adalah untuk sekolah, itu saja. Saya ini orangnya tidak terlalu suka prinsip menang-menang atau untung-untung. Menurut saya prinsip hidup tersebut tidak selamanya pas (baca: cocok) untuk hidup ini. Kalau mau menolong seseorang ya kita harus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun, termasuk mengharapkan nanti kamu juga harus menolong saya. Karena, menurut saya menolong seseorang ya kita harus siap rugi. Biarlah nanti Tuhan yang menambal kerugian kita.

Apa yang sudah terjadi selama di sini?
Tentunya juga sudah banyak, karena pengalaman-pengalaman yang sudah saya alami di sekolah ini juga banyak. Lagi-lagi ada yang manis dan pahit hehe... Memang hidup ini tidak akan pernah berjalan mulus terus, pasti akan ada batu-batu kecil yang mengganggu jalan kita. Yang masih hangat terjadi dalam hidup saya selama bekerja di sini adalah gagal ujian tes pegawai tetap. Memang ada penyesalan ataupun malu karena, gagal lulus ujian awal, tapi kembali lagi hidup memang tidak akan pernah mulus terus. Jadi, tidak masalah dan saya tidak mau terlalu menyesalinya. Pasti akan ada pelangi sehabis hujan, pasti sinar mentari akan tetap bersinar meski sekarang tampak mendung dan gelap.

Kurang lebih itulah jawaban dari tiga pertanyaan di atas, yang dapat saya jawab. Meskipun mungkin jawabannya kurang dalam (baca: lengkap) tapi saya rasa sudah mengarah ke inti jawaban jadi, semoga pembaca bisa memahaminya. Di akhir tulisan ini saya juga ingin mengungkapkan sesuatu hal…
Saya sangat bersyukur pada akhirnya bisa melalui pekerjaan di tempat ini selama tiga tahun. Terimakasih yang tak terkira saya haturkan kepadaMu Tuhan untuk tiga tahun ini. Bagi saya tiga tahun bukan waktu yang singkat. Di awal bekerja dulu masih dianggap muda dan sekarang mungkin sudah tidak dianggap muda lagi. Di awal dulu masih dimaklumi kalau sering membuat kesalahan tapi mungkin ke depan tidak akan terlalu dimanja seperti dulu. Makin ke sini otomatis tanggung jawab yang diberikan juga akan semakin besar. Hehehe… kadang ada rasa ingin muda terus, tapi itu tidak mungkin karena kehidupan akan terus berjalan. Tidak akan ada yang abadi di dunia ini. Layaknya daun juga pernah muda, berawal dari daun muda yang bersemi masih berwarna hijau muda bening, pada suatu saat juga akan bertambah tua dengan warna yang mulai jadi hijau gelap, selanjutnya akan berubah warna jadi kuning dan pada suatu waktu akan lepas atau jatuh dari pohonnya. Itulah kehidupan. Ada juga pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala ini, “Adakah mimpi yang masih belum tercapai selama bekerja di sini?”, Jelas ada. Ada beberapa impian yang belum terwujud dan ada juga mimpi untuk bekerja di tempat lain. Hehehe… saya tidak akan berbohong pada diri saya sendiri. Selagi saya masih belum terlalu tua ada keinginan untuk bekerja di tempat yang lebih baik. Akhirnya tahun ajaran baru akan segera mulai lagi, pengalaman selama tiga tahun ini akan menjadi kenangan yang selalu mengingatkanku bahwa saya tidak muda lagi dan masih ada impian yang belum tercapai di tempat ini ataupun selama saya menjadi seorang guru. Jadi, saya mau berusaha untuk bekerja lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Menjadi tua itu pasti jadi jangan takut, jangan pikirkan hari esok tapi nikmatilah hari ini. Bukankah burung-burung kecil itu begitu bahagia terbang ke sana kemari menikmati hari ini dan tidak memikirkan hari esok. Tuhan pernah berucap bahwa Dia sangat mencintai burung-burung kecil itu, apalagi kita manusia.
Sekian cerita saya. Mari kumpulkan semangat lagi untuk menjalani musim yang baru.
Berkah Dalem.

Senin, 26 Februari 2018

Nonton Konser Sheila on 7 Lagi

Hei...  Februari 2018!
Saya mau nulis lagi, di blog kesayangan ini... :D
Suatu saat pengen nulis di sebuah buku yang diterbitkan oleh percetakan. Suatu impian yang masih terus saya tata dan kumpulkan. Apa yang dikumpulkan?, heh!. Semangatnya pastinya!. Semangat untuk mengumpulkan "mut" (baca: motivasi) kemudian menggapai impian itu yang sampai saat ini masih berserakan tak menentu. Kalau dipikir-pikir seperti mau buat skripsi lagi, hehe... Ternyata baru saya sadari, pengalaman membuat skripsi itu bakalan ada dan digunakan.

Ok, kali ini saya akan membagikan cerita tentang musik lagi. Saya dulu pernah nulis tentang musik dan band favorit di blog ini, bagi yang belum baca silahkan cek. Band favorit saya sampai sekarang masih sama dan masih saya ikuti sampai detik ini, mereka adalah Sheila on 7 dan The Rain. Meski sebenarnya masih ada juga band-band lain yang jadi favorit hati ini, tapi yang dua itu selalu menjadi idola yang teratas dalam daftar list band favorit saya. 

Kemarin Sabtu, 17 Februari 2018 di GOR UNY, secara kebetulan atau memang oleh panitia penyelenggara even sengaja dibuat demikian, Sheila on 7 konser satu panggung dengan The Rain, meski waktunya bergantian. Tapi paling tidak Sheila on 7 bisa konser bareng dengan The Rain. Makanya, sejak pertama kali ada informasi konser itu saya langsung putuskan takkan melewatkannya. Oya, konser Sheila on 7 di GOR UNY kemarin menjadi konser keempat di tempat yang sama yang pernah saya tonton, dan keempat konsernya itu saya tonton secara berturut-turut dari tahun 2015, 2016, 2017, & 2018. Hebat bukan....hahaha... biasa saja sih sebenarnya. Apesnya dari 2015 - 2018, saya tak pernah bawa pacar. (Gimana mau bawa pacar?,, 7_7... sudahlah). Dan tambah apes lagi kemarin pas konser, Pak Duta vokalisnya S07 juga sempat bilang,"Siapa yang nonton konser kali ini masih sendiri/ jomblo." Hahaha.... jane sik jomblo ki ora gur aku wingi ki, tapi seumuran aku sik iseh jomblo ki ora akeh, masalahe kui...hik..hik (baca: sebenarnya yang jomblo itu kemarin bukan hanya saya saja, tapi seumuran saya yang masih jomblo itu ya tidak banyak, itulah masalahnya). Wah malah curhat ini...haha...

Kembali ke topik pembicaraan.
Ada cerita lain yang seru selama nonton konser kemarin. Berbekal pengalaman konser di tahun 2017 lalu. Pada konser kemarin saya sengaja membawa kamera DSLR (baca: hanya kamera pinjaman) untuk mengabadikan personil band-band favorit. Meskipun sebenarnya ada catatan dalam konser, "Tidak diperbolehkan membawa barang-barang tertentu salah satunya kamera DSLR." Tapi berbekal pengalaman kecerdikan saudara sepupu saya di konser tahun 2017 lalu, akhirnya kamera tersebut bisa dibawa masuk tanpa hambatan. Bagaimana caranya?, heh... itu rahasia.
Berikut ini beberapa foto yang sempat saya ambil pas konser kemarin.
Gambar 1 - Dokumen pribadi 

Gambar 2 - Dokumen pribadi
Ada yang tahu atau kenal dengan dua orang difoto tersebut?
Yang kenal pasti juga penggemarnya Sheila on 7 dan The Rain atau mungkin penggemar gitaris Indonesia khususnya Jogja. hehe...
Akhirnya kesampaian juga nonton konsernya dua band asal Jogja tersebut, tapi sayang lagi-lagi konser kemarin seperti kurang lama, bahkan cenderung lebih singkat dibandingkan dengan konser-konser sebelumnya. Tapi tak masalah, karena bisa nonton konser dua band ini sudah sangat membahagiakan. Tinggal satu hal yang ingin saya kejar, yaitu punya album gitar dari gitaris-gitaris Jogja- termasuk dua orang difoto tersebut. Album fisiknya bukan file MP3nya, karena kalau MP3nya saya juga sudah punya. Kemarin belum lama cari di aplikasi Spotify, dan ternyata ada. Jadi bisalah sedikit mengobati rasa penasaran tentang musik-musik di album gitaris Jogja tersebut.

Kembali ke kamera! Perjuangan untuk mengambil foto kedua orang tersebut ternyata tidaklah mudah. Maklum saya bukanlah orang yang mahir pakai kamera, khususnya kamera DSLR. Banyak foto-foto yang saya ambil kemarin terlalu gelap atau terlalu terang atau blur karena goyangan. Hehe... dua foto di atas adalah beberapa foto yang hasilnya lumayanlah.

Sekian cerita saya tentang nonton konser dua band favorit dan apa yang saya lakukan selama konser kemarin. Pada intinya ini merupakan kegiatan hiburan yang saya lakukan di luar rutinitas pekerjaan. Sekedar hiburan dari rutinitas yang kadang melelahkan dan menguras fisik ataupun pikiran. Konser berikutnya nonton lagi tidak ya?, tunggu saja besok, lihat kondisi dulu. 
Sekian dan terimakasih.
BD

Kamis, 30 November 2017

Kegiatan di Hari Guru - 25 November 2017

Hai...
Sudah akhir November, sebentar lagi Desember. Siap-siap merayakan Natal ya, bagi yang merayakannya.
Saya nongol lagi ni.
Kali ini saya mau berbagi cerita kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman guru, dihari guru tepatnya hari Sabtu, 25 November 2017 yang lalu.
Sudah tiga tahun saya menjadi guru, dimulai sejak tahun ajaran baru 2014/2015 sampai sekarang. Berarti kemarin tanggal 25 November 2017 adalah perayaan hari guru yang keempat bagi saya. Tapi, entah kenapa perayaan hari guru yang terakhir kemarin begitu berbeda dari sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya saya merasa biasa saja saat perayaan hari guru. Tapi tahun ini seperti ada sesuatu yang lain. Mungkin tiga tahun yang lalu saya masih terlalu muda (muda..?, tenanne?) untuk mengerti dan memahami sosok guru yang ku jalani ini. 

Tahun ini memasuki tahun ketiga saya mengajar di SMP. Kegiatan rutin guru-guru di SMP setiap hari guru, bukan ikut senam seperti kebanyakan guru-guru di sekolah lain di kabupaten ini. Tapi kami mengunjungi/ sowan/ silaturahmi ke guru-guru yang sudah pensiun. Di sana kami sengaja berkenalan, menengok kondisi kesehatan, dan yang paling penting meminta nasihat-nasihat untuk menjalani pekerjaan ini sampai seperti mereka, yaitu sampai pensiun. Meminta nasihat supaya bisa terus semangat menjalani pekerjaan ini sampai batas usia yang sudah ditetapkan. Intinya itu saja. 

Pada kegiatan yang singkat tersebut saya mendapatkan pelajaran dan nasihat yang sangat penting dan pasti akan saya coba jalankan meski diri ini rapuh. Guru pensiun tersebut masih sehat, suami istri yang menjalani sisa hidup berdua dengan ceria, dan bahagia kelihatannya. Dan saya merasa bukan hanya tampilannya saja, tapi hati mereka tetap bahagia (semoga saya bisa seperti kaliyan ya...hehe). Apalagi ketika melihat kami datang ke rumah mereka, jelas terpancar bahagia di raut wajah dan sinar matanya. Seperti mau menjelaskan pada kami, "Siapakah kami ini sampai kalian datang berkunjung." Saat ditanya, "Pesan-pesan dan nasihat apa yang bisa Bapak dan Ibu berikan pada kami?" Awalnya mereka seperti bingung mau memberi pesan apa, berpikir sejenak kemudian memberi petuah pada kami. Bergetar hatiku saat melihat sedikit kebingungan mereka. Bergetar karena, saya yakin mereka juga seorang guru yang rapuh tapi berhati lembut. Apalagi setelah muncul nasihat-nasihat dari bibir mereka, bukan hanya getar hati lagi yang kurasakan tapi bendungan kelopak mata yang mesti kujaga kuat (baca: mencoba tegar) agar air mata ini tak tumpah meleleh ke pipi...hehehe. Rapuh tetapi dipanggil, kemudian menerima penggilan itu dan menjalani dengan sepenuh hati. Itulah gambaran yang kupetik dari guru pensiunan tersebut.

Dua nasihat singkat dan penting dari mereka. 
Pertama, "Jadi guru tidak perlu neko-neko (baca: aneh-aneh) yang paling penting adalah tindakan. Sedikit bicara tapi banyak berbuat. Karena, contoh atau teladan lebih berguna dan mengena bagi para siswa."
Kedua, "Bimbinglah mereka (baca: anak-anak) dengan sepenuh hati seperti layaknya anakmu. Tetep sabar dalam membimbing dan jangan lupa berdoa, serahkan segalanya kepada Tuhan. Biarlah semuanya Tuhan yang mengatur dan membantu. Kita tetap berusaha sebaik mungkin."

Kedua pesan itu begitu membekas sampai sekarang dan yang paling penting bisa menjalaninya. Tuhan dampingi saya untuk menjalaninya dengan sabar, tabah, dan selalu denganMu. Satu hal lain lagi yang membuat hatiku bergetar adalah saat menjadi wali kelas, dikirimi ucapan selamat hari guru dari para siswa dan orang tua siswa. Begitu menguatkan, "Terimakasih ya untuk semuanya, tanpa perlu saya sebutkan satu-satu. Semuanya begitu menyejukkanku dan semoga terus memotivasiku untuk terus menjalani pekerjaan ini."
Setelah selesai kunjungan itu, diperjalanan pulang sambil berdendang lagu Hymne Guru, dan berucap dihati, "Seperti ini toh rasanya jadi guru." Hehehe....
Ok sekian dulu ya.
Semoga tulisan ini menjadi berkat bagi semua.
BD.